Setengah Hari di Phnom Penh

Kantor Giant Ibis terletak di sebelah night market. Keluar dari kantor Giant Ibis, disambut driver tuk-tuk. Mereka menyediakan jasa tur dalam kota ke beberapa tempat. Saya hanya ingin ke Killing field. Dia buka harga USD 15. Karena sudah lihat di peta tidak terlalu jauh, saya tawar jadi USD 6 untuk bolak balik, penawaran saya tidak diterima, saya melengos pergi dan akhirnya dipanggil oleh si driver. 😂

FYI, killing fields and genocide museum berada di dua tempat berbeda. Killing fields lebih ke pinggir kota dan genocide di tengah kota. Karena saya salah kaprah, saya kira killing fields itu genocide museum, akhirnya diantarlah kami ke sana. Sampai sana si driver mencoba nego harga lagi jadi USD 8,langsung saya tolak karena sebelumnya sudah sepakat. Driver pasrah dan tanya berapa lama di situ, saya bilang sekitar 1 jam. Masuk di gerbang museum, terdapat selang yang semprot air tipis supaya tidak terlalu panas. 

Tiket masuk USD 5 untuk dewasa, jika ingin memakai audio guide nambah USD 3. Kami gak pakai audio guide. 

Tempat ini menunjukkan masa kelam Cambodia yang baru terjadi tahun 1970an. Orang-orang pintar ditangkap, banyak orang-orang yang melakukan hal sepele bahkan tuduhan palsu dibuat alasan supaya mereka ditangkap. Diukur tinggi badan dan difoto,diberi nomor sebagai identitas mereka di sana. 

Night bus dari Phnom Penh ke Siem Reap itu memakai sleeper bus. Walau sebelumnya saya tanya ke penjual tiket, dia cuma bilang night bus (saya pikir tempat duduknya seperti bus biasa dan ketika itu saya agak kecewa karena pengen coba sleeper bus). 

Biaya yang dibayar USD 15/ orang. 

Begitu masuk bus, kita dikasi kresek untuk taro sepatu kita, belum boleh masuk kalau belum lepas sepatu. Tempat tidurnya 2-1, yang paling depan 1 bed buat kondektur. Bus ini jadi mirip hostel ya, di setiap tempat tidur ada colokan, selimut, bantal.  wifi tidak bekerja di hp saya. 

Sampai di Siem Reap jam 6 pagi. Saya sudah book driver tuk-tuk yang saya baca review nya di travel blog orang Indo. Jika belum book driver tuk-tuk juga tidak perlu khawatir karena banyak driver tuk-tuk yang menunggu di sana. 

Advertisements

Cambodia Yang Punya 2 Mata Uang

Tanggal 22 November 2017 kemarin saya pergi dari Saigon ke Phnom Penh. Kenapa saya buat thread Cambodia duluan? Karena menurut saya Cambodia ini adalah negara antik. 

Kami membeli tiket bus dari Saigon ke Phnom Penh di bookmebus.com USD 14 dolar dan CC charge USD 1. Yang ternyata meeting point nya itu sangat dekat dengan tempat nginap, hanya perlu jalan beberapa ratus meter saja dan berjejer agen bus (karena lokasinya dekat dengan terminal bus),  harusnya bisa beli langsung di sana. Tapi karena pertimbangan VND kami sudah menipis dan malas tuker uang lagi akhirnya ya pakai CC saja. Kami menginap di Vinh Hostel, itu ternyata apartemen tua yang disulap jadi hostel dan kamar private. 

Kami naik Mekong Ekspress jam 7 pagi. Semua tas diletakkan di bagasi bus dan kita akan mendapat kartu untuk pengambilan tas. Mekong ini memberikan juga satu botol kecil air minum dan dua buah cake, satu manis dan satu asin,serta tissue basah. Sambil menunggu bus, kami coba cari makanan super murah yang ada, karena sisa uang hanya 12,000 VND. Karena gorengan di gerobak pun harga nya 15,000 VND akhirnya saya beli 2 roti prancis yang biasa dibuat sandwich oleh mereka seharga 10,000VND.

Bus nya bus lama, jarak antar tempat duduk juga agak sempit tapi lumayan bersih dan ada toiletnya. 

Kartu ini harus diisi

Ini snack yang diberikan, lumayan untuk mengganjal perut. 

Border Vietnam. 

Ketika sampai di border, semua passport dan arrival card penumpang diminta mbak-mbak Mekong, kita disuruh tunggu, lalu disuruh baris di depan loket imigrasi. Jadi nama kita akan dipanggil dan tinggal ambil paspor lalu kembali naik bus. 

Ada satu bule Amerika Selatan lg jalan sm fiance nya lalu dia ngobrol dengan orang Chinese kewarganegaraan USA, dia blg ke si Chinese negara ini way worst 😅, padahal, dia blg, dia aja tinggal di Amerika Selatan which is gak se maju negara Eropa atau USA tapi di Vietnam sign nya gak jelas semua, gak friendly buat turis dan byk yg g bs bahasa Inggris. 

Sekitar jam 12 siang setelah melewati border kamboja, kami berhenti di satu rumah makan. Ketika turun langsung tercium aroma pork 😰😰😰. Saya gak tahan cium baunya. Kami diberi waktu 20menit untuk makan. Saya tidak berani makan apa-apa karena saya tidak makan pork. Bule-bule juga kebanyakan gak makan, mereka hanya beli ice cream atau buah. Mungkin kurang higienis untuk mereka. 

Ada 3 mata uang yang ditawarkan, lumayan untuk menghabiskan VND (jika ada). USD 1 = 4,000 riel adalah perhitungan di mayoritas toko Cambodia. Tapi itu tidak baku ya, karena di beberapa gerai minimarket mereka punya currency sendiri, ada juga money changer yang menawarkan USD 1 = 4,100 riel.

Bus inilah yang mengantar kami ke Phnom Penh. Sekitar jam 2 siang waktu setempat kami mulai memasuki kota Phnom Penh. 

Sebelumnya saya tanya ke mbak Mekong, lewat agen bus Ibis gak? Si mbak nya bilang gak, padahall lewat dong. Saya cocokkan GPS dan lokasi agen Giant Ibis, kebetulan ada yang turun dekat sana (karena saya gak tahu boleh minta berhenti di sembarang tempat atau gak, jadinya nunggu ada yang minta turun baru ikutan) lalu kami segera turun dan minta tas yang di bagasi. Jalan sedikit lalu ketemu tempat yang dituju yang ternyata bersebelahan dengan Phnom Penh Night Market. Kami ambil tiket jam 11.30 menuju Siem Reap dengan perhitungan mau muter-muter dulu. Harganya USD 15. Waktu saya tanya, apakah itu sleeper bus? Dia bilang itu cuma night bus, agak kecewa karena pengen coba sleeper bus. Saran saya sih ambil saja yang jam 11.00 malam, kenapa? beda 30 menit lumayan untuk tidur di bus, sampai nya juga lebih awal.

Cara Mengurus STNK hilang

Apa yang harus dilakukan? 

1. Buat surat keterangan hilang di kantor polisi terdekat. Biasanya kita kasih uang terima kasih ke pak polisi atas jasa mengetik surat kita itu. 
2. Pergi ke Samsat terdekat, lalu lakukan tahap2 berikut:

a. Cek fisik kendaraan bermotor –  GRATIS, akan diberikan formulir yang sudah ditempeli sticker kode kendaraan kita (kode nya itu di gosok2 dari mesin motor, jadi jangan lupa bawa kendaraan nya ya).  

b. Melipir ke bagian sebelah tempat cek fisik kendaraan, siapkan fotokopi dan asli KTP, fotokopi dan asli BPKB, dan surat keterangan hilangbdari polisi, dijadikan satu –  GRATIS

c. Pergi ke gedung arsip yang ada di sebelah kiri (kalau dr tmpt cek motor), di cek kelengkapan arsip kendaraan bermotor kita dan akan ada stempel di formulir cek fisik kendaraan. – GRATIS

d. Naik ke lantai 3 minta formulir STNK hilang, isi formulir tersebut. 

e. Loket komputer khusus –  serahkan berkas anda. Akan di cek apakah sudah bayar pajak atau belum. 

f. Loket registrasi dan pengecekan STNK, diminta uang Rp 10,000 (kayaknya masuk kantong bapake, soalnya gk dikasi tanda terima). 

g. Loket surat keterangan STNK hilang/rusak, akan diberikan surat seperti ini – GRATIS

h. Loket perubahan identitas, tapi dengan bapak yang paling kiri, berkas diambil, KTP ditahan, yang dikembalikan hanya BPKB dulu. Besok baru bayar dan ambil STNK. 

i. Loket perubahan identitas lagi, serahkan BPKB nya dan tanda terima, akan diberi surat setoran pajak daerah dan KTP yang ditahan. 

j. Loket pembayaran, bayar sesuai yang tertera di kertas. Kemudian tunggu dan akan dipanggil namanya di loket STNK & SKPD PERUBAHAN IDENTITAS. 

h. Nama kita akan dipanggil dari loket STNK &  SKPD PERUBAHAN IDENTITAS. Diberikan STNK pengganti dan kita harus cek apakah yang tertera sudah sesuai atau belum. Proses selesai, akhirnya! 


Mengingat proses yang diperlukan cukup panjang, disarankan anda membawa:

– BPKB dan KTP asli dan fotokopi

– Uang secukupnya

– Kendaraan yang diurus

– Air minum

– Pulpen

– Buku atau gadget untuk killing time. 

– Kesabaran. 

Jalan-Jalan Ke Negeri Laskar Pelangi

Setelah galau beberapa kali, akhirnya saya tukar poin garuda miles yang tidak banyak dengan tiket PP Jakarta –  Belitung. Hanya perlu membayar Rp 170,000 kami sudah sampai di Belitung. Tadinya, saya ingin bemar-benar backpacker an. Keluar dari bandara naik angkot, tapi kakak saya ternyata gak mau. 

Absen dulu sebelum pergi. 

Kami pesan mobil untuk mengantar ke homestay dengan biaya Rp 100,000/ mobil yang sebenarnya bisa diisi sampai 4 orang. Dan menyewa motor untuk 2 hari juga dari Pak De dengan biaya Rp 70,000/ 24 jam. 

Ketika mobil menuju pintu keluar bandara, saya melihat di kaca bagian belakang taksi ditulis biaya taksi bandara hanya Rp 60,000 (-_____-). Saya tidak sempat simpan nomor telpon nya karena mobil melaju dengan cepat. 

Sedikit review belitung homestay backpacker

Homestay yang kami tempati adalah Belitung Homestay Backpacker yang bertempat di Jalan Lettu Mad Daud Rt.18 Rw.09 no.3 Tanjungpandan. Biaya nya Rp 75,000/ malam. 

Satu kamar berisi 8 bed dengan 1 kamar mandi dalam. 

Setiap bed dilengkapi dengan bantal, colokan, selimut dan handuk. 

Kamar mandi kecil, tapi bersih. Lantai kamar juga bersih. Tapi mereka hanya menyediakan satu kamar mix dorm. 

Kamar dilengkapi dengan TV kabel, air minum gelas, loker, kaca. Ibu pemilik hostel ternyata doyan backpacker an. Makanya dibuatlah hostel seperti ini. Jika mau menyewa motor, mereka menyewakan dengan harga murah, hanya Rp 50,000/hari. Saya agak menyesal menyewa dari tempat lain. Rumah juga dilengkapi dengan wifi yang cukup kencang. Pemilik rumah juga dapat membantu untuk persewaan kapal. 

Makanan yang ada di sini juga sangat beragam untuk kota kecil seperti Belitung. Jika kamu tinggal di tanjung pandan dan dekat dengan pusat kota nya, kamu akan menemukan KFC dan banyaktempat makan lainnya. Makanan yang banyak dijual di sini adalah bakso, mie ayam, pempek, ketoprak (malam hari). 

Tempat kami makan sore

Mie ayam tanpa ayam

Pampi rebus, seperti kwetiau dengan telur dan sayur. Rasanya sih ya so so gitu. 

Biaya hidup di Belitung menurut orang lokal sini mahal. Sudah 2 orang lokal bilang seperti itu ke kami.

 
Pengeluaran Day 1:

  • Gocar rumah-bandara Rp 85,000
  • Nasi padang di bandara (nasi, sayur nangka, perkedel kentang)  Rp 40,000
  • Mobil bandara-homestay Rp 50,000
  • Penginapan 5 malam Rp 375,000
  • Sewa motor 2 hari Rp 70,000
  • Makan mie ayam + camilan Rp 15,000
  • Bensin 1L Rp 8,000

Grand Total Rp 643,000
BONUS: 

nasi padang Rp 40,000 saya 😅, jangan deh makan di bandara. NYESEK

Ini motor yang kami sewa, lampu depan nya mati. 

Mengurus Perpanjangan Pajak Kendaraan Bermotor 

Tiap tahun, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan benar, kita harus membayar pajak. Salah satunya pajak kendaraan bermotor. 

Sebelum ke SAMSAT, ada baiknya kita cek dulu biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar pajak melalui situs SAMSAT. Sehingga tidak perlu kelabakan karena uang yang dibawa kurang. 
Jam buka SAMSAT

Senin s/d Jumat pukul 08.00 –  15.00 WIB

Sabtu pukul 08.00 –  11.00 WIB

Tetapi ada baiknya datang lebih awal untuk pengambilan formulir dan antri di loket pengambilan nomor supaya selesai lebih cepat. 

Hal-hal yang perlu disiapkan untuk perpanjangan pajak motor:

– KTP asli / surat kuasa jika kendaraan tersebut bukan atas nama kamu

– Fotokopi STNK bolak balik

– Fotokopi halaman pertama dan kedua BPKB (memanjang) 

– Pulpen

– Mengisi Formulir 

Jika tidak mau pusing, bisa fotokopi di kantor SAMSAT dengan biaya IDR 2,000. Semua berkas di stelper menjadi satu, lalu antri untuk dapat nomor urut untuk pembayaran pajak. 

Setelah itu, kita duduk manis menunggu data di input dan akan dipanggil nomor urut nya untuk membayar ke loket pembayaran dan dikembalikan KTP asli kita. 

Setelah membayar pajak, akan ada cap LUNAS

Menunggu dipanggil oleh petugas dari loket STNK&SKPD. Petugas akan memanggil nama dan alamat kita. STNK siap dibawa pulang.

Jika kita telat bayar pajak lebih dari setahun, harus lapor ke lantai 3 dan 4 untuk bayar keterlambatan. 

Jika BPKB masih ‘sekolah’  atau tidak bawa, harus dilakukan pengesahan di loket paling ujung, sebelah loket STNK&SKPD. Formulir kita akan di cap pengesahan tersebut. 

Mereka claim waktu perpanjangan pajak tidak sampai satu jam. Ketika saya lihat jam, waktu menunjukkan pukul 08.58. 

Share cost Pendakian Kerinci, Juni 28-29, 2017

Pada suatu pagi kala melihat sunrise dari pos 2 Merbabu, saya dan seorang teman bercengkrama. Menurut kami, mendaki gunung untuk refreshing, jadi apa guna nya kalau mendaki ke tempat yang view nya kurang menarik seperti Kerinci. Merbabu worth the hike menurut kami karena pemandangan nya sungguh cantik. 

Tetapi sekarang saya tahu mengapa gunung yang kurang menarik sekalipun tetap banyak peminatnya, saya pribadi alasannya karena saya telah jatuh cinta dengan pegunungan. 💕💕 Menikmati dan menghabiskan waktu di antara ciptaan Tuhan yang alami itu ada kesenangan tersendiri untuk saya. 

Tergoda oleh postingan teman saya di IG yang menawarkan sharecost ke Kerinci pada pertengahan May lalu. Walau belum pasti akan ikut, teman saya sudah menambah nomor saya dalam grup WA mereka. Di samping itu, open trip yang saya lihat, paling murah menawarkan harga 950k, sedangkan total sharecost exclude tiket tidak sampai 800k. Ditambah lagi jadwal pendakian saat Lebaran yang notabene libur panjang dan tidak akan menggangu pekerjaan kantor. 

Ada beberapa teman saya yang saya ingat ingin pergi ke Kerinci, kesempatan bagus karena lebih nyaman pergi dengan orang yang saya kenal. Satu orang setuju ikut, kami hunting tiket murah dan akhirnya dapat tiket Jakarta-Jambi PP tidak sampai IDR 900k. Memilih MePo di Jambi dengan pertimbangan harga tiket lebih murah walau dengan waktu tempuh yang lama. Karena ketika itu saya cek harga flight ke Padang untuk sekali jalan IDR 900k.

Awalnya sharecost ini hanya ingin dibuat untuk 6 orang saja. Tetapi, semakin lama, semakin banyak yang berminat dan akhirnya terkumpul 20 orang! Detail biaya sudah di berikan, kemudian masalah yang muncul adalah ketersediaan travek dari bandara Jambi ke basecamp Kayu Aro. Berhubung tanggal kami pergi H+1 lebaran, sangat sulit mencari travel. Pendakian pun akhirnya diundur, dari yang terjadwal tanggal 26-27 diundur menjadi tanggal 28-29 karena ada yang datang tanggal 26. Setelah mencari kemana-mana, salah seorang teman saya yang sangat bersemangat akhirnya mendapatkan travel yang mengangkut kami dengan biaya IDR 235k (harga travel non high season biasanya sekitar IDR 150-170k sekali jalan). 

Peralatan kelompok seperti tenda, nesting, kompor, flysheet dibawa oleh masing-masing orang yang punya. Logistik kami bayar masing-masing IDR 50k seorang karena akan membawa logistik dari Jakarta. 

Tgl 27 full team lengkap sudah ada di basecamp jejak kerinci pada jam 11.00. Kami putuskan untuk hiking danau Gunung Tujuh, karena tidak mungkin naik Kerinci dengan harapan bs nge camp di shelter 3. Saya pikir, danau Gunung Tujuh mempunyai trek landai, jadi saya hanya memakan sandal jepit untuk hiking ke sana. Tapi ternyata kalian yang mau trekking ke sana saya sarankan memakai sepatu gunung. Karena kita harus hiking selama 3 jam, dengan kontur jalan menanjak terus sampai puncak, tanah agak lembab dan bayak akar serta pepohonan. 



Setelah sampai puncak Gunung Tujuh yang cukup melelahkan, kami harus turun menuju danau. Turunan yang cukup curam, dengan longsoran tanah. Harus berhati-hati, dan kalian akan melihat danau yang indah! 

Kami semua kelaparan dan langsung memasak mie instant. Setelah makan, ada beberapa teman yang trekking menyusuri danau, ada juga yang mencoba naik perahu kayu milik warga di sana. Danau lebih luas dari Rakum menurut saya, airnya dingin sejuk, bersih. Ada juga yang nge camp di sekitar danau. 

to be continue… 

Pendakian TekTok Gunung Gede Jalur Cibodas – Gunung Putri yang Penuh Misteri

Semua berawal dari postingan story IG tanggal 8 Jun 2017, A mengajak seseorang untuk tek-tok Gede karena dia sedang haid dan tidak berpuasa (sepertinya saya terlalu semangat sehingga lupa mempertimbangkan hal sepenting itu), nah saya yang butuh hiburan tergoda untuk ikutan. Kemudian saya mengajak teman saya si B untuk ikut dan ternyata dia mau. Karena orang yang diajak A tidak mau, akhirnya hanya kami bertiga yang berangkat.

10 Juni 2017

Jam 17.45 saya dan B pergi menuju terminal kp. Rambutan untuk naik bus yang menuju Cibodas. Kami sampai di pertigaan Kebun Raya Cibodas jam 22.00 karena bus agak lama ngetem di Ciawi.

Angkot yang menuju kebun raya sudah tidak ada dan terpaksa kami naik ojek untuk sampai di warung dekat pintu masuk pendakian.

Tak berapa lama kami tiba di warung ibu Ani,teman saya yang lain, si A, sudah menunggu di sana sejak pukul 18.00. A sudah mengurus simaksi resmi melalui web beberapa hari sebelumnya, dan sudah membayar simaksi. Karena A tiba saat loket simaksi sudah tutup, penjaga warung bu Ani menawarkan jasa bantu ambil simaksi oleh saudara nya dengan tambahan biaya, kami setuju dan akan bertemu esok harinya.  Setelah obrolan singkat, makan mie instant, kami pun istirahat.

 

11 Juni 2017

Pukul 4.30 sang calo (Kang Gaza) datang, setelah A memberikan bukti pembayaran, kang Gaza kemudian melakukan cek ulang dan ternyata simaksi kami belum di validasi. Saya tak tahu apa penyebab hal ini. Kang Gaza mengusulkan ke A untuk membeli simaksi dari nya. Karena kami tidak mau pulang sia-sia akhirnya kami setuju.

Jam 5 lewat kami mulai pendakian menuju pintu masuk pendakian, pos pemeriksaan simaksi tidak ada orang. Target kami sampai kandang badak maksimal jam 11 agar tidak terlalu sore sampai di bawah karena hari Senin kami harus kerja.

Jam 6.22 kami sampai di Telaga Biru, jam 6.52IMG_20170611_062722[1]

sampai di pertigaan menuju air panas, A jalan nya semakin melambat dan kami sampai kandang badak jam 10.44.

IMG_20170611_104447[1]

Saya optimis sampai puncak jam 12. Tapi ternyata meleset, kami sampai puncak jam 14.20.

IMG_20170611_142127[1]

A sudah mulai kelelahan, tidak mau minum, dan mulai pusing. Akhirnya kami putuskan untuk turun lewat jalur Gunung Putri dengan pertimbangan jauhnya hanya separuh dari jalur Cibodas. Lagipula A juga pernah lewat sana. Jadi saya pikir cukup aman.

Sampai di Alun-Alun Suryakencana pukul 15.00.

IMG_20170611_145643[1]

Kami sempat melihat beberapa pendaki yang hendak turun menuju hutan, ada sekitar 6 orang, tidak ada yg membawa keril yg besar. Kemudian kabut tebal mulai turun, jam 15.17 kami mulai berjalan menuju hutan, kabut tebal datang dan pergi.

IMG_20170611_152820[1]

A sudah mulai mengeluh capek berkali-kali. Kami break ketika A mulai capek, 15.41 kami masuk ke hutan. Tertulis 6 km menuju basecamp Gunung Putri. Kami berjalan menyusuri hutan dengan mengandalkan jalan setapak yang cukup jelas. Trek Putri tidak ada jalan landai sama sekali, trek menurun dari awal sampai akhir.  Setelah agak jauh berjalan, saya menyeletuk “Gak ada orang ya yang lewat.” karena pendaki yang kami lihat tadi tak terdengar sama sekali suara nya. Lalu tak lama setelah saya berbicara, muncul 2 orang lelaki dengan senapan angin pada bahu mereka. Mereka habis mencari burung. Tapi saya tidak melihat burung tangkapan sama sekali. Saya pikir, kami bisa ikuti mereka supaya lebih aman, tapi jalan mereka sangat cepat, dengan kondisi jalan menurun seperti itu mereka sama sekali tidak berpegangan pada pohon dan berjalan cepat menuju B yang ada di depan, lalu salah satu mereka berkata, “Teman nya jangan ditinggal ya mas.” kemudian tak lama mereka menghilang di tengah rerimbunan.

A beberapa kali mengeluh capek dan kaki nya luka sehingga dia tidak bisa berjalan cepat, sedangkan kami dikejar waktu karena sebelum petang seharusnya sudah keluar dari hutan. Hari semakin gelap dan jalanan serasa tak berujung. B kemudian tanya apakah tidak ada mata air di hutan, karena persediaan air kami tinggal 150ml. Tak lama turun, di sisi kanan saya melihat 2 botol Aqua 1,5L teronggok dan terisi air sekitar 3/4 botol. Saya sempat berniat mengambil air tersebut karena saya tak tahu trek nya, apakah masih jauh atau tidak, lumayan untuk persediaan air. Tapi karena ragu, akhirnya saya urungkan niat mengambil air itu.

Keanehan mulai, ketika turun, walau sudah cukup jauh, yang kami lihat di depan masih lah awan, yang berarti perjalanan masih cukup jauh. Kemudian trek yang ada kadang gelap, kadang agak terang. Saya yang berada paling belakang merasa ada orang hitam yang terus mengikuti dan melihat kami. Adzan maghrib tiba-tiba terdengar, A minta berhenti dan bilang supaya melanjutkan perjalanan setelah adzan selesai. Karena suara sudah terdengar cukup jelas, saya setuju dan berfikir kami sudah tak terlalu jauh dari pemukiman warga. Karena kami juga bisa mendengar deru motor.

Setelah adzan selesai, kami menyusuri hutan kembali, hutan seketika gelap gulita dan kami harus menyalakan penerangan. Baterai headlamp A habis, untung nya saya membawa satu headlamp dan satu senter hasil pinjaman teman. B memakai penerangan dari hp nya. Headlamp yang saya bawa dipakai A, tapi anehnya sinar headlamp tersebut redup. Padahal sebelumnya sangat terang. Binatang-binatang hutan mungkin semacam kumbang yang menggesekan sayapnya menghasilkan bunyi yang sangat berisik malam itu seolah menertawakan kami.

Saya berada di paling depan, memegang tangan A. B ada di belakang membantu menerangi jalan dengan flash dari hp nya. Jalan yang kami lewati ternyata sama, kami berputar di tempat yang sama tiga kali. Belakangan B bercerita pada saya, saat kami melewati jalan tersebut, ada tempat peristirahatan seperti ini

IMG_20170611_075004_HDR[1]

Kami melewati tempat ini sebanyak empat kali. Ketika kedua kali bertemu dengan tempat ini, B kemudian membuat tanda dengan bungkusan madu yang terisi setengah nya, B menggeser ke dekat akar. Terbukti kami melewati madu tersebut  tiga kali. A mulai panik, dia berkata “Kayaknya kita salah jalan, kita putar-putar di tempat yang sama terus. Gw udah capek nih. Emang masih jauh ya?” Saya tidak berani berkata apa-apa, saya hanya bilang ke A “Jalan nya cuma satu dan jelas, harusnya kita berjalan di jalan yang benar. Bentar lagi juga kita sampai.”

B sebelumnya sempat menunjukkan GPS hp nya, yang saya lihat kami masih ada di dekat Cibodas! Ketika kami jalan, GPS tersebut tidak bergerak sama sekali. Yang ada di pikiran saya hanya bagaimana terus jalan supaya keluar dari hutan secepatnya karena kami tidak punya air. Kami juga berdoa dalam hati, kami percaya Tuhan pasti menolong kami. Sempat ada persimpangan ke kiri, tapi kami memilih ke arah kanan. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya saya melihat sesuatu yang berkilau. Saya pikir itu adalah rumah atau apalah, setelah dilihat ternyata tulisan selamat datang dan ada tempat duduk seperti foto berikut.

pos-gunung-gede.jpg

Copyright photo Link Foto Selamat Datang

Jalan mengerucut, kadang kami bertemu dengan jalan beton, lalu jalan kembali rusak. Cukup panjang sekitar 2 km kami meyusuri jalan tersebut.

Akhirnya ketika saya senter sekitar, saya lihat di kanan dan kiri mulai ada ladang penduduk. Saya optimis kami akan segera sampai di basecamp. Kami terus berjalan, sesekali berhenti. Tetapi perjalanan juga agak lama, akhirnya kami bertemu aliran sungai dan jembatan kecil yang dibuat dari dua potongan kayu. Ada 2 cabang jalan, ke kanan dan ke kiri. B mengisi semua botol yang kami bawa. A sudah menggigil kedinginan dan semakin lemah. Saya bilang ke B agar cek jalan sebelum kami putuskan mau pergi ke arah mana. Karena sama sekali tidak ada petunjuk jalan. Sebelah kiri, ada gundukan tanah sehingga kami pikir itu jalan buntu, dan takut kami digiring masuk ke hutan lagi. Akhirnya kami pilih jalur kanan yang lebih besar dan menjauh dari hutan. Ketika sampai di aliran sungai, kita harus ambil jalan arah kiri, itu yang menuju basecamp Putri.

Kami berjalan jauh, diiringi kabut tebal dan ada rintik-rintik hujan dari kabut. Melewati rumah yang ternyata hanya digunakan sebagai gudang pupuk. Tidak ada rumah warga dan manusia sama sekali. Kami melewati lagi gudang pupuk yang menyerupai rumah, yang di depan nya ada mobil tua berwarna merah. Setelah beberapa ratus meter berjalan dari mobil tersebut, A akhirnya minta berhenti, dia menggigil kedinginan. Baju nya sudah basah sejak tadi, ketika tahu itu, saya sudah suruh A supaya ganti baju dulu. Dia berkeras tidak mau. Ketika A tidur di jalan, saya hanya tutupi A dengan emergency blanket yang saya bawa. Sambil mencoba menghubungi kang Gaza, karena sebelumnya dia sempat menelepon ketika kami mendapat sinyal, karena kami belum melapor sampai jam segitu. B mencoba menghubungi siapapun yang bisa diminta bantuan, mulai dari polisi, kang Gaza, ranger gunung Gede, kami mencoba memesan Uber, Grab tetapi tidak bisa karena jalan tersebut tak bernama.

Kang Gaza ketika dihubungi, segera bergegas ke jalur Gunung Putri, kemudian ketika dihubungi kembali, berulang-ulang hanya masuk mailbox. Saya sempat menelpon

Gunung Gede-Pangrango
(TNGGP) : 0263519415 (office) / 0263512776 (booking)
081912021180 (P. Usep)

Saya telepon office, tidak ada yang mengangkat. Saya telepon pak Usep akhirnya diangkat dana saya cerita detail kejadian dengan harapan mereka cepat tanggap sehingga paling kurang A dapat segera ditolong. Kami sudah share location juga, tapi ya begitulah. pak Usep bilang akan menghubungi teman nya yang ada di jalur Putri. Saya agak kecewa, seharusnya mereka tahu kalau ambil jalan ke kanan, dimana mereka harus mencari orang.

SMS pertama saya dengan kang Gaza jam 19.05. Jam 20.31 dia baru sampai pos putri. Jam 21.01 baru ada SMS lagi dan bilang kalo pake ojek ongkos ambil kami mahal, kalo balik lagi dia bilang gak mungkin. Saya sudah bilang ke dia, apa saja yang bisa untuk membawa A secepatnya kami setujui. Karena A semakin menggigil walaupun saya sudah ganti bajunya, pakaikan sleeping bag dan dilapisi emergency blanket. Setelah lama menunggu, tak kunjung datang orang, kami putuskan untuk jalan. A digendong B, saya membawa tas. Sekitar 20 meter dari tempat kami berhenti, ada satu rumah dengan lampu luarnya menyala. Kami segera datang ke sana dan mengetuk, berharap ada orang di dalam rumah tersebut. Tak lama kemudian pintu dibuka, lampu dinyalakan, kami meminta ijin untuk menunggu di sana karena cuaca semakin dingin. Diijinkan oleh pemilik (saya lupa nama nya). B yang lapar juga diberi makan (kami makan terakhir ketika di kandang Badak). A yang menggigil diberi teh panas, kemudian tertidur.

Saya yang penasaran bertanya kepada si Bapak

  • Saya: Bapak, di sini sering ada orang tersesat gak? Kami tadi diputerin di hutan.
  • Bapak: Iya, memang sering orang diputerin di sana sampai tiga kali, warga di sini juga sering kena. Kalau sudah capek baru dikasih jalan keluar.
  • Saya: Apa sering orang lewat jalan ini?
  • Bapak: Kemarin itu ada satu orang sekitar jam 1 subuh mengetuk pintu, dia ternyata naik lewat Sukabumi (Jalur Salabintana) dan keluar lewat sini tapi ditinggalin sama dua orang teman nya yang duluan. Ada juga 6 orang, 3 cewe, 3 cowo yang pernah nginep di sini karena tersesat.

Sekitar jam 23.00 kang Gaza dan satu teman nya dari Putri datang terdengar berteriak menyebut nama A, kami tak gubris karena kesal kenapa mereka lambat datang (walaupun kami tahu pencarian memang butuh waktu, tapi kami kesal 😦 ). Bagaimana jika kami tidak menemukan rumah ini, saya tidak tahu bagaimana nasib A. Karena kami tidak menjawab, mereka mengetuk rumah yang kami tempati, bertemu saya dan B. Bertanya apakah mau turun sekarang atau besok, dengan kondisi kami harus berjalan (lagi) kira-kira 1 km karena angkot berhenti di sana. B dan saya menolak, karena kami semua kelelahan. Teman kang Gaza (guide jalur Putri) memberi wejangan supaya lain kali kalau cek jalur, dilihat yang benar. Saya sempat cerita kami dibawa memutar di hutan, dia tak percaya. Mereka pasti tahu itu memang terjadi, saya yakin itu.

Kemudian kami beristirahat, saya bangun agak kesiangan, jam 6.22. Ketika keluar rumah, saya lihat matahari sangat indah!

IMG_20170612_062300_HDR[1].jpg

Bersyukur sekali kemarin malam dilindungi Tuhan. Bayangkan, biasanya setiap sore di sana selalu hujan, kemarin malam hanya ada kabut tebal. Biasanya angin bertiup kencang, kemarin angin hanya pelan saja. Banyak hal yang saya rasakan merupakan bantuan Tuhan.

IMG_20170612_062314[1].jpg

Ini rumah tempat kami menumpang tidur. Bapak pemilik rumah tinggal dengan teman nya satu orang berangkat ke ladang pagi hari dan berpesan untuk hanya menutup rumah ketika kami pulang. Ketika saya cerita peristiwa ini di rumah, kakak saya berkata, “Jangan-jangan mereka malaikat.”

Mungkin saja mereka malaikat yang menjelma menjadi rupa manusia 🙂

 

Biaya-biaya:

  1. Bus ekonomi Kp.Rambutan – Cibodas IDR 20.000
  2. Ojek menuju warung atas IDR 20.000
  3. SIMAKSI resmi weekend IDR 34.000
  4. SIMAKSI lewat calo IDR 85.000 (bisa nego, ada yang dapet IDR 75.000 kalau book dari jauh hari)
  5. Mie Instant + telor / Nasi Goreng di warung @ IDR 15.000

Cara membuat surat keterangan sehat di puskesmas

Kemarin tiba-tiba saya lihat status Whatssapp teman saya yang ingin mendaki gunung Gede akhir pekan ini. Lalu muncul lah keinginan itu, mau coba bagaimana rasanya melakukan pendakian tek-tok. Saya ajak teman lainnya, dan dia juga mau ikut. Setelah melakukan registrasi SIMAKSI online, yang saya pikirkan selanjutnya adalah surat keterangan sehat.

Akhir tahun lalu, saya juga melakukan pendakian gunung Gede dengan menginap semalam. Surat keterangan sehat saya dapatkan dari rumah sakit Bidakara yang saya pikir akan tercover oleh asuransi kantor. Karena sebelumnya, saya pakai kartu asuransi dan memang tidak membayar apapun. Tetapi, pada saat itu, saat mau mengambil kartu di kasir, bagian kasir kemudian bertanya surat itu untuk apa. Karena surat untuk keperluan pribadi, akhirnya saya harus membayar biaya sekitar IDR 100,000 sekian. Sakit hati. Hahaha. Bagaimana tidak, teman saya yang minta surat dari puskesmas hanya membayar IDR 15,000.

Tadi saya browsing puskesmas-puskesmas yang ada di dekat kantor dan akhirnya ketemu dengan Puskesmas Kelurahan Menteng Dalam. Alamat ada di Jl. Rasamala 1 Rt. 003/002, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

IMG_20170609_110422_HDR[1].jpg

 

Lokasi puskesmas ada di dalam jalan kecil, lebih tepatnya gang. Sepatu-sepatu tergeletak di depan pintu masuk puskesmas, menandakan kita harus membuka sepatu (belakangan saya lihat staff ternyata tidak membuka sepatu).

IMG_20170609_110429_HDR[1].jpg

Lantai nya memang terasa bersih. Kemudian saya menuju loket pendaftaran, petugas meminta KTP. Pada kolom keterangan, petugas bertanya untuk apa surat tersebut. Waktu saya jawab untuk naik gunung, sontak petugas kaget (dia tidak lihat bagian agama di KTP sepertinya). Lalu petugas bilang, “Sepertinya gak enak kalau ditulis untuk naik gunung.” Kemudian saya bilang tulis saja untuk persyaratan naik gunung. Tiba-tiba ada ibu berumur sekitar 50 datang ke samping saya. Dari perawakan nya terlihat si ibu suka olahraga. Beliau datang juga untuk meminta surat keterangan sehat yang akan dipakai untuk pendakian ke Ranu Kumbolo!

Biaya surat keterangan sehat hanya sebesar IDR 5,000. Akan dipanggil ke poli umum, diukur tekanan darah, berat badan dan tinggi badan. Ketika di cek tekanan darah saya 130/80. Dokter sempat bertanya-tanya apakah biasa tekanan darah saya segitu? sampai apakah saya punya penyakit paru-paru atau tidak. Kata dokter, tekanan darah saya cukup tinggi untuk umur saya. Sempat was-was, tapi akhirnya dokter menandatangani surat keterangan sehat saya! Yipiee! Tunggu aku gunung Gede!

Bangkok Trip Maret 2016

Ini sebenarnya udah basi banget sih, karena trip di bulan Maret 2016 dan sekarang Aug 2016. Tapi ya sudahlah, dibuang sayang, jadi di save aja dimari.

 

Sampai di BKK udah sore, jam 6 lalu kami ber 5 mau naik taksi, tapi supir taksi nya gk mau kalo ber 5, alhasil akhirnya saya naik bus (modus karena mau jalan-jalan sendiri) ke JJ Green, karena ada bus yang menuju arah chatuchak, bayar THB 40. Nekat, gatau apa-apa di sini, belum beli paket data, belum tau cara menuju tempat nginap kalau dari chatuchak, hanya modal tanya-tanya orang dengan bahasa tarzan, tetep niat dan

akhirnya sampai di JJ Green sendirian. Berikut beberapa foto yang terambil ketika di sana. Sorry beberapa foto ngeblur, karena amatiran.

DSC_2547
jual mainan anak-anak juga
DSC_2542
JJ Green – Sunday night
DSC_2552
Gemess sama barang-barang nya
DSC_2546
Tempat cat yang dibuat tempat duduk, rumah kucing/ anjing kecil dan tempat BBQ
DSC_2543
Baju-baju yang lagi nge Hits

Di sana sih tempat nongkrong yang anak muda banget, gak cocok kalau orang tua dibawa ke sini, pasti bosen. Dan sebaiknya gk dateng waktu Kamis malam ya, walau mereka buka, tapi gk se rame waktu weekend. Karena kami ke san Kamis sore dengan orang tua dan mereka pulang duluan, kita kongkow di sana sampe malam, juga yang jualan gk terlalu banyak.

Besok PAGI-PAGI jam 6 saya udah dibangunin sm nyak, diajak jalan-jalan. Kami tinggal di daerah Pratunam, jadi ada morning market yang murah-murah barangnya. Di sana beli barang min 3 piece akan dapat harga grosir, yang cukup menggiurkan karena bedanya agak jau daripada kalau beli hanya satu. Jam 7 atau 8 an pagi, sudah mulai ada yang jual makanan,

 

DSC_2563
Jajanan pagi, ada buah, ada makanan berat

Siangnya dan hampir setiap hari selama 4 hari di sana kita hanya jalan di Pratunam aja, tapi tetap ya, jadi wanita itu ada aja yang di tenteng waktu pulang, walau yang jual ya itu-itu aja.

bunga segar dijual, sepertinya untuk sembayang.

DSC_2577DSC_2579DSC_2571DSC_2568

Ini foto-foto booth camilan yang unik menurut saya ketika jalan menuju Big C (Seperti Carrefour nya Indo)

Di sana banyak yang jual jus segar sudah di dalam botol plastik yang bagus (tebal) dijual dengan kisaran harga THB 20-40

DSC_2646

Ini Tuk-Tuk (bajaj versi Thai)

To be continue (menunggu mood untuk menyelesaikan cerita ini)

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑